Senin, 04 Agustus 2025

Oppie Andaresta: Perjalanan Karier Penyanyi Era 90-an

Oppie Andaresta, penyanyi kenamaan era 90-an, lahir pada 20 Januari 1973.  Perjalanan kariernya di industri musik Indonesia cukup panjang dan penuh warna.  Ia memulai kiprahnya dengan merilis singel "Satu Macam Saja" pada tahun 1990, sebuah lagu bergenre pop-rock yang menjadi batu loncatan bagi perjalanan musiknya.  Tak hanya bernyanyi solo, Oppie juga pernah berduet dengan Mayangsari, serta membentuk trio bersama Mayangsari dan Lady Avisha, membawakan lagu-lagu bergenre slow rock.
 
Nama Oppie Andaresta semakin dikenal luas setelah merilis album pertamanya, "Albumnya Oppie," pada tahun 1993.  Uniknya, album ini diproduseri dan ditulis sendiri oleh Oppie, menunjukkan bakatnya yang komprehensif di dunia musik.  Singel andalan dari album ini, "Cuma Khayalan," sukses memikat hati para penikmat musik Indonesia.
 
Setelah kesuksesan album pertamanya, Oppie terus berkarya dengan merilis album-album berikutnya, yaitu "Bidadari Badung" (1995) dan "Berubah" (1998).  Namun, perjalanan kariernya tak selalu mulus. Album keempatnya, "Hitam Ke Putih" (2001), sempat mengalami kendala berupa pencekalan oleh pihak Kejaksaan Negeri, dengan alasan yang hingga kini belum terungkap secara jelas.
 
Oppie Andaresta membuktikan keuletannya dengan kembali merilis album "Lagu Bagusnya Oppie" pada tahun 2003, kali ini berkolaborasi dengan Universal Music Indonesia.  Ia kemudian meluncurkan singel "I Am Single, I Am Very Happy" di awal tahun 2009, menandai konsistensinya dalam berkarya di industri musik.
 
Perjalanan karier Oppie Andaresta merupakan bukti dedikasinya dalam bermusik.  Dari singel pertamanya hingga album-album yang telah dirilis, ia telah memberikan kontribusi yang signifikan bagi perkembangan musik Indonesia di era 90-an dan seterusnya.  Kisah pencekalan albumnya menjadi catatan menarik yang menambah warna dalam perjalanan kariernya yang penuh dinamika.

Sabtu, 02 Agustus 2025

Franky Sahilatua: Suara Rakyat, Nyanyian Perjuangan

Franky Sahilatua, penyanyi pop era 70-an yang lahir di Surabaya pada 16 Agustus 1953, bukanlah sekadar penyanyi. Ia adalah ikon musik kerakyatan, suara hati rakyat kecil yang lantang menyuarakan keadilan dan kemanusiaan.  Perjalanan musiknya dimulai dengan duet legendaris bersama adiknya, Jane Sahilatua, membentuk Franky & Jane yang memikat hati pendengar dengan balada dan folk lembut seperti "Musim Bunga," "Lelaki dan Rembulan," dan "Kepada Angin."
 
Namun, Franky memilih jalan berbeda dari kebanyakan musisi yang mengejar popularitas semata. Ia memilih untuk menyuarakan suara-suara terpinggirkan, mengangkat isu ketimpangan sosial, dan harapan rakyat biasa. Lagu-lagunya seperti "Terminal" (bersama Iwan Fals), "Perahu Retak," dan "Orang Pinggiran" menjadi bukti nyata komitmennya.  Melalui musik, ia bercerita tentang buruh, petani, nelayan, dan mereka yang seringkali tak terdengar suaranya.
 
Dedikasi Franky tak hanya berhenti di ranah musik.  Pada tahun 2006, ia diangkat menjadi Duta Buruh Migran Indonesia oleh ILO dan SBMI, menunjukkan kepeduliannya terhadap isu sosial yang lebih luas.  Dalam setiap konser dan wawancara, ia selalu lantang menyuarakan keadilan, kemanusiaan, dan pelestarian lingkungan hidup. Baginya, musik bukan hanya hiburan, tetapi senjata ampuh untuk menggugah nurani bangsa.
 
Meskipun takdir berkata lain, ketika ia divonis mengidap kanker sumsum tulang belakang pada tahun 2010, semangat juangnya tak pernah padam.  Bahkan di ranjang perawatan, ia masih sempat merilis karya terakhirnya, "Pancasila Rumah Kita," sebuah pesan mendalam tentang persatuan dan persaudaraan di tengah perpecahan bangsa.  Franky Sahilatua meninggal dunia pada 20 April 2011, namun warisannya tetap hidup.  Ia dimakamkan di TPU Tanah Kusir, tetapi lagu-lagunya terus berkumandang, menjadi pengingat akan kejujuran, kesederhanaan, dan keberpihakan pada kaum kecil.
 
Hari ini, kita mengenang Franky Sahilatua bukan hanya sebagai seorang penyanyi, tetapi sebagai pahlawan musik kerakyatan.  Selama masih ada anak muda yang ingin menyanyikan kebenaran, selama masih ada rakyat kecil yang ingin didengar, lagu-lagu Franky akan terus menggema.  Pesannya yang penuh makna, seperti kutipannya, "Jangan padamkan api di hatimu, karena hanya dengan nyala itulah kita bisa menerangi jalan bangsa ini," akan selalu menginspirasi generasi penerus.