Hiburan
Senin, 09 Maret 2026
Perjalanan Hidup Ayu Stiati.
Penyebab Kematian Dedi Dores.
Vidi Aldiano, Penyanyi Indonesia Meninggal Dunia Setelah Berjuang Melawan Kanker Ginjal.
Kamis, 19 Februari 2026
Komang Darsana: Perjalanan Karier Musik Penyanyi Pop Bali dari Tahun 90-an hingga Kini.
Rabu, 12 November 2025
Ketut Sana, Ikon Pop Bali Era 2000-an.
Minggu, 02 November 2025
Gus Babah Maestro Pop Bali dari Buleleng.
Selasa, 23 September 2025
Suara Emas Bagus Parijata.
Sabtu, 02 Agustus 2025
Perjalanan Franky Sahilatua.
Sabtu, 26 Juli 2025
Perjalanan Karier Hari Moekti.
Kamis, 24 Juli 2025
Nike Ardilla: Sebuah Bakat yang Dipengaruhi oleh Banyak Musisi Hebat
Kamis, 17 Juli 2025
Sosok Musisi Sukses di Balik Layar Musik Pop Bali.
Minggu, 13 Juli 2025
Dua Pilar Aneka Record: Mengenang Oka Swetanaya dan Jimmy Sila'a
Duka Cita atas Kepergian Yunita Ababiel Penyanyi Dangdut Legenda
Sabtu, 12 Juli 2025
Widi Widiana: Perjalanan Panjang Raja Pop Bali hingga Era Digital
Sang Legenda Pop Bali, Komang Adi, Telah Tiada
Rabu, 09 Juli 2025
Budi Arsa: Penyanyi Pop Bali yang Produktif dan Berbakat*
Senin, 23 Juni 2025
Poppy Mercury: Bintang Pop Indonesia yang Terlalu Cepat Padam
Jumat, 20 Juni 2025
Yong Sagita: Raja Pop Bali Era 80-90an
Selasa, 10 Juni 2025
Mengenang Meggy Z dan Jejak Musiknya.
Sabtu, 07 Juni 2025
Sang Legenda Dangdut, Imam S. Arifin, Telah Tiada
Sabtu, 03 Mei 2025
Legenda Musik Pop Bali: Jejak Karier dan Kenangan Manis Para Penyanyi
Musik pop Bali memiliki sejarah panjang dan kaya, diwarnai oleh para seniman berbakat yang telah menghibur masyarakat selama bertahun-tahun. Artikel ini akan mengulas perjalanan karier beberapa legenda musik pop Bali, mengenang kontribusi mereka dalam mewarnai industri musik Pop Bali.
Ayu Saraswati: Lahir di Denpasar pada 27 Mei 1979, Ayu Saraswati memulai kariernya sejak 1997 di Intan Dewata Record dengan lagu "Menggantung Tanpa Cantel". Ia juga dikenal lewat duetnya dengan almarhum A.A Made Cakra ("Tekor Don Biu") dan Yan Kirana ("Mebuung Payu"). Pada era 2000-an, ia bergabung dengan Aneka Record Tabanan, sering duet dengan Eka Jaya, dan merilis album perdana "Sing Bani Mati". Lagu-lagu hitsnya seperti "Sayangang Tiang", "Doseke Yen Tiang Tresna", dan "Bayang Bayang Tresna" masih dikenang hingga kini.
Yan Mus (Wayan Mustika): Penyanyi kelahiran Mengwi, 6 Maret 1973 ini memulai kariernya di Aneka Record dengan sejumlah album kompilasi yang sangat populer, seperti "Dagang Kere" (1999), "Mebalik Kuri" (2000), hingga "Joh Dimata Paek Dihati" (2006). Setelah era kaset, ia bergabung dengan Crucuk Kuning dan merilis single hits seperti "Kurenan Titipan", "Semprong Meprada", dan "Ngalih Jalan Pedidi".
Yong Sagita (Yong Sagita Swastika): Lahir di Gesing Singaraja pada 30 November 1961, Yong Sagita memulai kariernya di Aneka Record dengan duet bersama Sayub dalam album "Madu Teken Tuba" (1985). Ia kemudian beralih ke Maharani Record, menghasilkan album-album seperti "Karmina" dan "Ngiler-Ngiler". Pada era 2000-an, ia kembali ke Aneka Record dengan album "Kangen Tan Pegatan".
Ngurah Adi (Gusti Ngurah Adi Yoga): Lahir di Mengwi pada 7 Mei 1979, Ngurah Adi merilis album "Rindu" di era 2000-an. Setelah era kaset berakhir, ia beralih ke platform digital, merilis lagu-lagu seperti "Pejalan Karma".
Yannik Pering: Lahir pada tahun 1979 di Desa Pering, Gianyar, Yannik Pering dikenal lewat grup Buduh Inguh yang debut di Bali Record pada tahun 2000. Lagu-lagu solonya seperti "Purnama Di Pesisi Lebih", "Guru Seksi", dan "Kimud Kimudan" sangat populer. Saat ini, ia aktif di kanal YouTube "Yannik Pering Official".
Ketut Bimbo (Ketut Budiarsa): Lahir tahun 1954 di Desa Banyuatis, Buleleng, Ketut Bimbo merupakan musisi berpengalaman yang telah bekerja sama dengan Aneka Record, Bali Record, dan Maharani Record. Lagu "Ngabut Keladi" menjadi salah satu hits terbesarnya. Ia juga pernah menjadi penyiar radio. Ketut Bimbo meninggal dunia pada 29 April 2021.
Ayu Stiati (Anak Agung Ayu Stiati): Lahir di Badung pada 29 Desember 1974, Ayu Stiati populer di era 2000-an dengan lagu-lagu seperti "Kadung Sayang", "Bengkung", dan "Lalah Manis". Ia juga membentuk Ayu Stiati N Band pada 2012. Ayu Stiati meninggal dunia pada 31 Mei 2013.
Para seniman tersebut di atas telah memberikan kontribusi besar bagi perkembangan musik pop Bali. Karya-karya mereka akan selalu dikenang sebagai bagian penting dari sejarah musik Indonesia.
Minggu, 09 Maret 2025
Ruddy Karamoy, Vokalis Band U'Camp Meninggal Dunia.
Kamis, 16 Januari 2025
Perjalanan Hidup Ketut Bimbo Penyanyi Pop Bali.
Kamis, 05 Desember 2024
Kepergian Dina Mariana Meninggalkan Kenangan Mendalam.
Minggu, 24 November 2024
Bagus Wirata: Penyanyi Pop Bali dengan Gaya Koplo Ukulele yang Enerjik
Minggu, 20 Oktober 2024
Perjalanan Hidup Nike Ardilla.
Senin, 08 Juli 2024
Perjalanan Gombloh.
Gombloh, atau Soedjarwoto Soemarsono, nama yang begitu lekat dengan musik Indonesia era 70-an dan 80-an. Lahir di Tawangsari, Jombang, 12 Juli 1948, julukan "Gombloh"—yang berarti pura-pura bodoh—ironisnya justru menjadi kunci keberhasilannya di dunia musik. Meskipun bermakna kurang positif, julukan ini justru membawanya pada perjalanan karier yang gemilang.
Perjalanan musik Gombloh dimulai sejak masa SMP, saat ia membentuk band pertamanya sebagai pemain gitar melodi. Pada 1962, bersama empat rekannya, ia mendirikan grup musik The Dangerous yang membawakan lagu-lagu The Beatles, menandai awal eksplorasinya di dunia musik rock. Namun, titik balik kariernya terjadi saat ia membentuk band Lemon Tree's Anno '69. Band ini menjadi tonggak penting yang melambungkan namanya, memperkenalkan Gombloh sebagai pencipta lagu balada yang mendalam dan puitis.
Lirik-lirik Gombloh, seringkali misterius, menggambarkan kehidupan rakyat kecil dengan jujur dan penuh empati. Lagu-lagu seperti "Doa Seorang Pelacur" dan "Kilang-kilang" menjadi bukti kemampuannya dalam mengeksplorasi tema sosial. Beraliran art rock/orchestral rock, terpengaruh ELP dan Genesis, Lemon Tree's Anno '69 mencerminkan kedalaman dan keragaman musikalitas Gombloh.
Tak hanya tema sosial, nasionalisme juga kental dalam karya-karyanya. Lagu-lagu seperti "Dewa Ruci," "Gugur Bunga," dan "Indonesia Kami, Indonesiaku, Indonesiamu" menunjukkan kecintaannya yang besar pada Indonesia. Ia pun tak segan menulis lagu untuk penyanyi lain, seperti "Tangis Kerinduan" untuk Djatu Parmawati dan "Merah Putih" yang dinyanyikan bersama-sama.
Meskipun kemudian merilis album-album berorientasi pop yang lebih ringan untuk meraih popularitas yang lebih luas, Gombloh tetap mempertahankan jiwa merdeka dan kesetiakawanannya. Namun, perjalanan hidupnya terhenti pada 9 Januari 1988 di Surabaya, akibat penyakit paru-paru yang dideritanya. Kebiasaan merokok dan begadang menjadi faktor yang memperparah kondisinya. Kematian Gombloh meninggalkan duka mendalam bagi dunia musik Indonesia, namun karya-karyanya akan selalu dikenang sebagai warisan berharga.