Arie Wibowo, Maestro Pop-Cheerful Dengan Baret Miring Khasnya.
Kalau ngomongin musik pop Indonesia era 80-an sampai 90-an yang cerah, jenaka, dan gampang banget nempel di kepala, namanya pasti nggak bisa lepas dari Arie Wibowo. Lahir di Salatiga, 5 April 1952, Arie adalah vokalis grup band legendaris Bill & Board. Tapi dia bukan cuma penyanyi. Dia dalang di balik semua warna musik Bill & Board yang dulu ngehits banget di seluruh nusantara.
Ciri paling gampang dikenalin dari Arie itu topi baret miringnya. Nggak pernah lepas. Itu udah jadi ciri khasnya. Sekali lihat topi miring, orang langsung tahu "oh itu Arie Wibowo". Dan dari balik baret itulah lahir ide-ide lagu yang sampai sekarang masih kita nyanyiin.
Tangan dingin Arie bener-bener ngeracik mahakarya yang timeless. Siapa sih yang nggak hafal "Madu dan Racun"? Liriknya nyeleneh tapi relate, musiknya ceria tapi dalem. Terus ada juga "Singkong dan Keju" yang judulnya aja udah bikin senyum-senyum sendiri. Saking larisnya, lagu itu sampai dibikin lanjutannya: "Madu dan Racun II". Bill & Board di tangan Arie berhasil bawa angin segar pop-cheerful yang beda dari yang lain. Nggak lebay, nggak berat, tapi pesannya nyampe.
Sayangnya perjalanan maestro ini harus berhenti terlalu cepat. Pada tanggal 14 April 2011, Arie Wibowo mengembuskan napas terakhir karena serangan jantung. Ironisnya, itu cuma selang sehari sebelum ulang tahunnya yang ke-59. Dunia musik kehilangan satu sosok kreatif yang gayanya nggak ada duanya.
Sampai hari ini lagu-lagu Bill & Board ciptaan Arie masih sering diputar. Dari radio, acara nostalgia, sampai jadi bahan cover anak muda sekarang. Baret miringnya mungkin udah nggak ada, tapi karya dan suaranya masih tinggal. Arie Wibowo udah buktiin kalau musik yang jujur, ceria, dan sedikit kocak bisa jadi abadi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar